Hati-Hati Saat Memilih Provider Data Center

Menggunakan layanan data center, seperti colocation Indonesia, merupakan salah satu cara yang banyak dipilih oleh perusahaan saat ini. Apalagi, jika perusahaan sudah semakin berkembang, dan server yang dimilikinya saat ini tidak lagi mampu untuk menampung semua data yang harus disimpan. Bertambahnya jumlah perusahaan yang membutuhkan jasa data center ini, berdampak pada semakin bertambahnya pula jumlah perusahaan IT yang tertarik untuk bergerak dibidang ini.Hati-Hati Saat Memilih Provider Data Center

Sebenarnya, dengan semakin ketatnya persaingan provider data center ini, maka akan memberikan keuntungan bagi konsumen. Sayangnya, tidak semua provider menjalankan bisnisnya dengan baik dan bertanggungjawab. Sehingga, bukannya memberikan manfaat dan keuntungan bagi konsumen, tapi justru malah membawa kerugian. Berikut ini, adalah beberapa contoh hal yang membuat konsumen sebuah provider data center mengalami kerugian:

  • Tidak melakukan maintenance dengan baik

Tidak semua provider data center melakukan pekerjaannya secara profesional. Beberapa diantaranya hanya terfokus pada mencari pendapatan sebesar-besarnya dengan mencari konsumen sebanyak-banyaknya. Provider seperti ini, jelas tidak memiliki rasa tanggungjawab terhadap seluruh pelayanan yang akan diberikan pada konsumen. Tidak hanya itu saja, provider ini juga mungkin tidak akan memberikan bantuan yang berarti, ketika konsumen mengalami suatu masalah. Kecuali, jika apa yang diminta oleh konsumen akan memberikan keuntungan bagi provider.

  • Manajemen yang buruk

Manajemen yang buruk dalam sistem kerja provider juga dapat menyebabkan kerugian pada konsumen. Mungkin saja, sebenarnya provider berusaha untuk bertanggungjawab dan memberikan pelayanan terbaik pada konsumen, namun karena manajemen yang kurang baik hal ini tidak dapat tercapai. Konsumen justru malah merasa dipersulit ketika membutuhkan sesuatu. Selain itu, manajemen yang buruk ini dapat berdampak pada kacaunya sistem keuangan. Akibatnya, cash flow perusaahan provider berantakan, dan tidak menutup kemungkinan mengalami defisit, hingga akhirnya dinyatakan pailit.

Untuk menghindari kerugian akibat kedua hal di atas, banyak perusahaan yang pada akhirnya memilih provider yang telah memiliki reputasi baik dan biasanya sudah cukup dikenal. Hal inilah yang terkadang membuat perusahaan IT yang baru mau memulai usahanya dibidang ini mengalami kesulitan dalam bersaing. Cara satu-satunya agar mampu bersaing adalah, tingkatkan promosi dan berikan service terbaik pada konsumen yang menggunakan jasa provider. Meskipun konsumen tersebut belum memberikan keuntungan maksimal. (Vita)