Lebih Baik Rumput Sintetis atau Rumput Asli?

Rumput Sintetis telah merubah banyak hal sejak penggunaannya pertama kali pada tahun 1960. Sekarang penggunaannya telah ditemukan di banyak tempat, seperti bandara, dan kebun-kebun rumah. Namun, penggunaanya yang paling lazim tetap rumput asli atau palsuditemukan di tempat-tempat kegiatan berolahraga. Beberapa lapangan golf, sepak bola, futsal, tennis, hingga baseball telah menggunakan rumput sintetis dikarenakan beberapa alasan;

  • Biaya perawatannya relatif lebih murah
  • Terasa seperti asli
  • Perawatannya sendiri tidak sulit
  • Tidak menggunakan pestisida
  • Tidak menggunakan air
  • Tidak terpengaruh cuaca
  • Tidak merusak sepatu
  • Relatif lebih bersih

Beberapa jenis rumput sintetis telah didisain agar tidak mudah dihinggapi kuman maupun bakteri

  • Warna beragam
  • Dapat diasosiasikan dengan benda-benda elektronik

Contoh: lapangan tennis yang menginstall layar pada rumputnya untuk menayangkan iklan sponsor

Hal-hal diatas telah mempengaruhi banyak klub olahraga dari berbagai cabang olahraga untuk menggunakan rumput sintetis pada stadion mereka. Meski begitu, federasi sepakbola internasional FIFA masih melarang penggunaannya dikarenakan menyebabkan banyak cidera, dan pemain pun merasa pengendalian bola lebih sulit dilakukan di rumput sintetis. Namun pada tahun 2000-an, FIFA mulai mempertimbangkan kembali pelarangan tersebut dan akhirnya memperbolehkan penggunaan rumput sintetis pada kondisi-kondisi tertentu.

Selain itu, bahaya kimia juga mempengaruhi pertimbangan penggunaan rumput sintetis. Dalam proses pembersihan dan disinfeksi, rumput sintetis disemprotkan bahan-bahan kimia yang menjaga rumput tetap bersih dengan tetap menempel pada lapangan dan tidak hilang dimakan waktu. Hal serupa tak terjadi pada lapangan berumput organik karena beberapa jenis bahan kimia akan hilang diserap oleh tanah setelah proses pembersihan. Sementara bahan kimia terus menempel pada rumput sintetis yang lalu akan berpindah ke tubuh manusia melalui kontak fisik dan transfer melalui udara. Transfer melalui udara dapat terjadi karena beberapa jenis bahan kimia akan menguap setelah terkena sinar matahari dalam jangka waktu tertentu, dan hasil penguapannya dinilai cukup berbahaya bagi manusia. Bahkan beberapa ahli mengatakan bahwa, bahan-bahan kimia yang digunakan dalam proses pembersihan dan disinfeksi memiliki potensi menimbulkan kanker. (RR)