Normalnya, Ibu melahirkan bayi yang sudah berumur 9 bulan atau sekitar 37-40 minggu. Bayi yang lahir sebelum minggu ke‑37 dianggap prematur. Bayi dengan kelahiran prematur mempunyai risiko pasca-kelahiran seperti gangguan pernapasan, infeksi, suhu tubuh tidak stabil, serta risiko neurologis dan tumbuh kembang jangka panjang. Lalu, apa yang menyebabkan bayi lahir prematur?
5 Penyebab Bayi Lahir Prematur
Yuk, cek selengkapnya dalam kelanjutan artikel ini!
1. Infeksi Organ Reproduksi
Infeksi saluran kemih, infeksi vagina yang tidak diobati, atau chorioamnionitis (infeksi membran janin) bisa melemahkan ketuban, memicu pembukaan dini serviks, dan mempercepat persalinan dini. Menjaga kesehatan reproduksi dan pemeriksaan kehamilan rutin sangat penting untuk ibu hamil.
2. Kehamilan Ganda (Kembar 2 atau Lebih)
Hamil dengan lebih dari satu janin secara signifikan dapat meningkatkan risiko persalinan prematur. Mayoritas kelahiran kembar terjadi sebelum usia 36 minggu. Hal ini biasanya disebabkan karena volume plasenta dan air ketuban yang besar sehingga menekan serviks, dan komplikasi lebih sering terjadi.
3. Kebiasaan Kurang Sehat
Merokok, konsumsi alkohol, narkoba, paparan polusi udara, atau stres berat selama kehamilan dapat memicu persalinan dini. Obesitas atau kekurangan berat sebelum hamil juga dapat meningkatkan kemungkinan kelahiran prematur.
4. Faktor Genetik
Jika Ibu atau saudara kandung pernah mengalami kelahiran prematur, maka risiko secara genetik pun menjadi meningkat. Selain itu, variasi gen terkait inflamasi atau produksi kolagen juga dapat berkontribusi pada air ketuban pecah sehingga melahirkan prematur.
5. Solusio Plasenta
Terjadinya solusio plasenta yaitu plasenta lepas sebelum waktunya dan sering menyebabkan perdarahan sekaligus kekurangan oksigen pada janin. Ini merupakan komplikasi darurat yang sering mengarah ke persalinan dini demi keselamatan ibu dan bayi.
Tips Mencegah Kelahiran Prematur
Salah satu cara mencegah terjadinya kelahiran prematur adalah menjaga kesehatan reproduksi. Berikut beberapa langkah sederhana untuk mengurangi risiko kelahiran prematur:
- Rutin periksa kehamilan, termasuk deteksi infeksi atau tekanan darah tinggi.
- Hindari merokok, alkohol, polusi, dan stres berlebihan.
- Lakukan tes kesehatan seksual untuk memastikan tidak ada infeksi menular seksual (IMS) yang bisa menimbulkan komplikasi.
- Jaga berat badan ideal sebelum dan selama hamil.
- Bila Anda mempunyai riwayat persalinan prematur atau kondisi medis seperti preeklamsia, diskusikan langkah preventif dengan tenaga medis.
Faktor risiko seperti infeksi, kehamilan ganda, gaya hidup, genetika, dan komplikasi plasenta, bisa memengaruhi bayi lahir prematur. Untuk itu, Anda bisa mengambil langkah proaktif demi meminimalkan kemungkinan kelahiran prematur dan memaksimalkan peluang bayi lahir sehat di usia kehamilan 37-40 minggu.





