Karoshi, Kelelahan Bekerja yang Berujung Pada Kematian

Kebiasaan bekerja hingga memakan waktu berbelas-belas jam sepertinya sudah menjadi sebuah kebiasaan di Jepang. Jika di Indonesia kita mengenal konsep work life balance, di mana kita harus menyeimbangkan antara pekerjaan dan kehidupan, di Jepang hubungan antara pekerjaan dan kehidupan sudah tidak bisa dibedakan lagi. Bekerja hingga larut malam, makan seadanya, kurang istirahat, dan hanya bergantung pada vitamin serta suplemen untuk kesehatan tubuh, sudah menjadi sesuatu yang tidak asing. Dan hal inilah yang kemudian berujung pada kematian para pekerja.

karoshi

Source: redduckpost

Salah satu contohnya adalah Matsuri Takahashi, karyawan dari perusahaan advertising Dentsu yang bunuh diri akibat kelelahan bekerja. Perempuan berusia 24 tahun ini memutuskan untuk melompat dari atas gedung karena tekanan yang menimpa di kantor. Setelah diinvestigasi, Takahashi pun tidak hanya lelah bekerja tetapi juga mendapatkan perlakuan tidak pantas dari bosnya.

Bekerja sampai larut dengan minimal waktu bekerja 12 jam perhari ternyata sudah menjadi budaya di perusahaan Jepang. Karayawan Jepang bekerja lebih dari 60 jam perminggu dan jarang mengambil waktu libur. Kondisi ini yang pada akhirnya membuat para karyawan stress dan mengalami banyak tekanan yang berujung pada karoshi.

Karoshi sendiri merupakan sebuah frase untuk menggambarkan kematian karena kelelahan bekerja (overwork death). Akan tetapi, karoshi sendiri bukanlah ‘hanya’ sebuah frase karena sejauh ini sudah ada 200 kasus karoshi yang disebabkan oleh bunuh diri, serangan jantung, dan juga stroke. Korbannya pun biasanya adalah pekerja di usia 20an dan didominasi oleh laki-laki. Namun demikian, menurut The Washington Post, tingkat bunuh diri di antara pekerja perempuan pun sudah meningkat sebanyak 39% di empat tahun terakhir.

Pemerintah Jepang pun sudah berusaha untuk mengubah budaya overwork ini dan meminta para pekerja untuk menggunakan jatah cuti mereka dan liburan. Hanya saja, usaha tersebut tidaklah mudah. Mengapa? Sebab masyarakat Jepang cenderung bekerja di satu perusahaan dalam waktu yang lama, itu artinya ada banyak sekali perusahaan di Jepang yang didominasi oleh orang-orang tua. Kurangnya kehadiran anak muda di dalam sebuah perusahaan membuat tempo bekerja agak lambat dan workload semakin tinggi.